mie ayam bang jono

 

MIE AYAM BANG JONO

Hari Minggu pagi itu, udara terasa sejuk dan langit sedikit mendung. suara tawa dan obrolan mulai memenuhi ruang makan. Ibu baru saja selesai menyiapkan sarapan, tapi hari ini ada yang istimewa — kami semua sepakat untuk makan siang di luar, sesuatu yang jarang kami lakukan karena kesibukan masing-masing.

“Ayo, kita makan mie ayam di warung langganan Ayah!” seru adikku, Bimo, yang sudah tidak sabar. Ia memang penggemar berat mie ayam, terutama yang dijual di warung Pak jono di ujung jalan.

 Aroma kuah kaldu dan ayam kecap langsung menyambut kami. Bangku kayu panjang dan suara sendok bertemu mangkuk membuat suasana terasa akrab dan nyaman.

Satu per satu mie ayam disajikan di meja kami. Mangkuk-mangkuk besar berisi mie kenyal, topping ayam manis gurih, dan taburan daun bawang serta pangsit goreng di sisi piring.

“Enak banget!” ujar kakakku, Rina, sambil menyeruput kuah hangat..

Mungkin bagi orang lain, mie ayam hanyalah makanan biasa. Tapi bagi kami, semangkuk mie ayam di warung kecil itu adalah momen kebersamaan. Kami tertawa, saling mengejek dengan sayang, dan merasa hangat cinta di antara kami menjadi semakin hangat


Komentar